Sejarah Kerajaan Melayu di Nusantara

Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dilihat dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina. Keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke-15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.

Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas, karena memiliki tambang emas dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum akhirnya terintegrasi dengan Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682 M.

Penggunaan kata Melayu, telah dikenal sekitar tahun 100-150 M seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan “maleu-kolon” dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah “Malaya dvipa” yang bermaksud tanah yang dikelilingi air.

Letak Kerajaan Melayu

kerajaan melayu
id.wikipedia.org
Kerajaan Melayu terletak di Pantai Timur Sumatera dan pusatnya di sekitar Jambi. Karena letaknya yang strategis di tepi pantai dekat Selat Malaka, maka kerajaan Melayu merupakan jalan perdagangan yang ramai sekaligus merupakan jalan yang terdekat antara India dan Cina. Pada suatu saat, Melayu memegang peranan penting dalam lalu lintas perdagangan.
Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa kerajaan Melayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi, Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Melayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Melayu berlokasi di hulu sungai Batang Hari, sebab pada alas arca Amoghapasa yang ditemukan di Padang Roco terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah Raja Kertanegara (Singasari) kepada raja Melayu.

Sumber Sejarah Kerajaan Melayu

1. Berita dari Cina

Berita tentang Kerajaan Melayu antara lain diketahui dari dua buah buku karya Pendeta I-tsing atau I Ching (634-713 M) dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671 M. Kemudian singgah di negeri Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya (tatabahasa Sansekerta).

Ketika pulang dari India tahun 685 M, I-tsing yang bertahun-tahun tinggal di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina, kembali ke Cina dari Sriwijaya tahun 695 M. Ia menulis dua buah bukunya yang masyhur yaitu Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang Dikirimkan dari Laut Selatan) serta Ta-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang Menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang).

Menurut catatan I-tsing, Sriwijaya menganut agama Buddha aliran Hinayana, kecuali Ma-la-yu. Tidak disebutkan dengan jelas agama apa yang dianut oleh Kerajaan Melayu.

2. Berita lain

Sumber berita lain mengenai Kerajaan Melayu berasal dari T’ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p’u pada tahun 961 M, dimana Kerajaan Melayu mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 M untuk pertama kalinya. Namun, setelah berdirinya Sriwijaya sekitar 670 M, kerajaan Melayu tidak ada lagi mengirimkan utusan ke Cina.

Raja-Raja Kerajaan Melayu

1. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1183).

Sumber: Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand, perintah kepada Bupati Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai agar membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin. Ibukota: Dharmasraya.

2. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (1286).

Sumber: Prasasti Padang Roco tahun 1286 di Siguntur, pengiriman arca Amonghapasa sebagai hadiah Raja Singasari kepada Raja Dharmasraya. Ibukota: Dharmasraya.

3. Akarendrawarman (1300).

Sumber: Prasasti Suruaso. Ibukota: Dharmasraya atau Suruaso.

4. Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa (1347).

Sumber: Arca Amoghapasa. Ibukota: Suruaso atau Pagaruyung.

5. Ananggawarman (1375).

Sumber: Prasasti Pagaruyung. Ibukota: Pagaruyung.

Bukti Peninggalan Kerajaan Melayu

Adapun beberapa bukti peninggalan kerajaan Melayu, sebagai berikut:

1. Prasasti Amoghapasa

kerajaan melayu
id.wikipedia.org

Menurut prasasti Amoghapasa yang dikeluarkan oleh Raja Kertanegara pada tahun 1286 atau 1208 Saka yang ditemukan di daerah Darmasraya (Jambi), bahwa pada abad ke 13 pusat kekuasaan Melayu berada di Damasraya.2.

2. Prasasti Manjusri

kerajaan melayu
wisatanusa.com

Pada prasasti yang ada di arca Manjusri dari Candi Jago disebutkan bahwa pada tahun 1343, Raja Adityawarman bersama-sama dengan Mahapatih Gajah Mada menaklukkan Bali.

3. Prasasti Padang Roco

id.wikipedia.org

Prasasti Padang Roco adalah sebuah prasasti yang ditemukan di komplek percandian Padang Roco, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Pada tahun 1911 dari Padang Roco ditemukan sebuah alas arca Amoghapāśa yang pada empat sisinya terdapat prasasti (NBG 1911: 129, 20e). Pada prasasti ini, terpahat 4 baris tulisan dengan aksara Jawa Kuno dan memakai dua bahasa (Melayu Kuno dan Sansekerta) (Krom 1912, 1916; Moens 1924; dan Pitono 1966).

Isi dari prasasti tersebut adalah sebagaimana yang diterjemahkan oleh Prof. Slamet Muljana:

1. Bahagia! Pada tahun Śaka 1208, bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu wāge, hari Kamis, Wuku Madaņkungan, letak raja bintang di baratdaya …

2. Tatkalai itulah arca paduka Amoghapāśa lokeśwara dengan empat belas pengikut serta tujuh ratna permata dibawa dari bhūmi jāwa ke swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di dharmmāśraya,

3. Sebagai hadiah śrī wiśwarūpa kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka śrī mahārājādhirāja keŗtanegara wikrama dharmmottunggadewa memerintahkan rakryān mahā-mantri dyah adwayabrahma, rakryān śirīkan dyah sugatabrahma

4. Samagat payānan hań dīpankaradāsa, rakryān damun pu wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di bhūmi mālayu, termasuk brāhmaņa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, śrī mahārāja śrīmat tribhuwanarāja mauliwarmmadewa.

4. Prasasti Kedukan Bukit

kerajaan melayu
wacana.co

Prasasti ini menceritakan penundukan kerajaan Melayu oleh Sriwijaya. Ketika pertengahan abad ke-11, kerajaan Sriwijaya mulai lemah akibat serbuan dahsyat Colamandala, kerajaan Melayu memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali.

Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilanka menyebukan, bahwa pada zaman pemerintahan Vijayabahu di Srilangka (1055 – 1100), dipimpin oleh Pangeran Suryanarayana di Malayaprua (Sumatera). Hal ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-11, kerajaan Melayu telah berhasil memerdekakan dirinya dari kekuasaan Sriwijaya.

5. Kitab Nagarakretagama

Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebut Dharmasraya sebagai salah satu di antara sekian banyak negeri jajahan kerajaan Majapahit di Pulau Sumatera. Namun, interpretasi yang menjelaskan daerah-daerah jajahan wilayah kerajaan Majapahit yang harus memberikan upeti ini masih kontroversial, sehingga masih dipertentangkan sampai hari ini.

Pada tahun 1339, Raja Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit untuk menaklukan wilayah Swarnabhumi nama lain pulau Sumatera. Penaklukan Majapahit dimulai dengan menguasai Palembang. Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan menyebut nama Arya Damar sebagai Bupati Palembang yang berjasa membantu Mahapatih Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343.

Menurut Prof. C.C. Berg, tokoh ini dianggapnya identik dengan Adityawarman.

6. Dharmasraya ke Pagaruyung

Setelah membantu Majapahit dalam melakukan beberapa penaklukan, pada tahun 1343 Raja Adityawarman kembali ke Swarnabhumi dan pada tahun 1347 memproklamirkan dirinya sebagai pelanjut Dinasti Mauli penguasa kerajaan Melayu di Dharmasraya dan selanjutnya memindahkan pusat pemerintahannya ke Suruaso, (daerah Minangkabau), dengan gelar Maharajadiraja Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa.

Dengan melihat gelar yang disandang Raja Adityawarman, terlihat dia menggabungan beberapa nama yang pernah dikenal sebelumnya. Mauli merujuk garis keturunannya kepada Wangsa Mauli, penguasa Dharmasraya dan gelar Sri Udayadityavarman pernah disandang salah seorang Raja Sriwijaya serta menambahkah Rajendra, nama penakluk penguasa Sriwijaya, Raja Chola dari Koromandel. Hal ini sengaja dilakukan untuk mempersatukan seluruh keluarga penguasa di Swarnabhumi.

Dari catatan Dinasti Ming (1368-1644) menyebutkan, bahwa di San-fo-tsi (Sumatera) terdapat tiga orang raja. Mereka adalah Sengk’ia-li-yu-lan (alias Raja Adityawarman), Ma-ha-na-po-lin-pang (Maharaja Palembang) dan Ma-na-cha-wu-li (Maharaja Dharmasraya).

Sebelumnya pada masa Dinasti Yuan (1271-1368), Raja Adityawarman juga pernah dikirim oleh Raja Jayanegara sebanyak 2 kali sebagai duta ke Cina yaitu pada tahun 1325 dan 1332, tentu dengan nama yang sama pada masa Dinasti Ming yang masih merujuk kepada Raja Adityawarman, yang kemudian kembali mengirimkan utusan sebanyak 6 kali pada rentang tahun 1371 sampai 1377.

Kemudian dari berita ini dapat dikaitkan dengan penemuan Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah di Kerinci yang diperkirakan pada zaman Raja Adityawarman, dimana pada naskah tersebut ada yang menyebutkan tentang Maharaja Dharmasraya. Jika dikaitkan dengan tulisan yang dipahat pada bagian belakang arca Amoghapasa, jelas Adityawarman bergelar Maharajadiraja, dan membawahi Dharmasraya dan Palembang.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.