Etnosentrisme, Faktor, Dampak dan Contohnya

Penggunaan istilah etnosentrisme pada awalnya diciptakan oleh W. G. Summer (1906) dalam menggambarkan bias antara kelompok dalam dan kelompok luar yang mana sikap, adat istiadat dan perilaku tanpa keraguan dan kritik dianggap lebih unggul bagi tata sosial. Dengan kata lain, memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.

Etnosentris berasal dari kata etnik. Etnosentrisme adalah suatu presepsi yang dimiliki oleh suatu kebudayaan yang dimiliki setiap individu, sehingga menganggap bahwa kebudayaan yang mereka miliki lebih baik daripada budaya lainnya, atau dapat dikatakan etnosentrisme itu adalah fanatisme suku bangsa.

Etnosentrisme bisa saja tampak atau tidak di tengah-tengah masyarakat dan meski dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan merupakan kecenderungan alamiah dari psikologi manusia, etnosentrisme sendiri memiliki konotasi negatif di tengah masyarakat.

Meski begitu, ada beberapa sisi positif dari perilaku etnosentrisme, diantaranya adalah dapat menjaga kestabilan dan keutuhan suatu budaya, dapat mempertinggi semangat patriotisme dan kesetiaan kepada bangsa, serta dapat memperteguh rasa cinta terhadap kebudayaan atau bangsanya.

Pengertian Etnosentrisme Menurut Para Ahli

etnosentrisme
steemit.com

1.  Sumnel (dalam lubis 1999) memberikan arti sebagai kecenderungan manusia yang mengikuti naluri biologinya yang mementingkan diri sendiri lebih untuk unggul dari orang lain dan menjadi seorang yang individualistik.

2. Hariyono (1993) memberikan makna sebagai suatu perasaan in group dan out group dalam suatu dasar sikap yang dilakukan oleh seseorang.

3. Harris (1985) menggambarkan bahwa kecenderungan seseorang yang menganggap bahwa kelompoknya lebih baik dibandingkan kelompok yang lain, sehingga hal tersebut mendorong tindakan-tindakan yang tidak rasional seperti melakukan kekerasan, peperangan, tawuran dan sebagainya.

4. Coleman dan Cressey (1984) menurutnya memaknai sebagai seseorang yang berasal dari kelompok etnis yang cenderung melihat budaya mereka sebagai yang terbaik dibandingkan dengan kebudayaan yang lain.

5. Zastrow (dalam lubis 1999) mengatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh kelompok etnis secara tertutup tanpa mempertimbangkan keadaan kelompok lainnya.

6. Levine dan Campbell ( dalam scott 1988) mengartikan bahwa pandangan kelompok tertentu dimana yang berasal dari satu budaya untuk menilai budaya lain yang memiliki nilai berlawanan atau berbeda dengan kebudayaannya.

7. Taylor, Peplau dan Sears (2000) menurutnya adalah suatu hal yang mengacu pada kepercayaan kelompok masyarakat bahwa kebudayaannya selalu lebih baik atau superior dari pada kebudayaan yang lain.

8. Hogg (2003) menurutnya adalah kegiatan yang melibatkan distribusi internal dan eksternal dalam kehidupan masyarakat.

Dari 8 pengertian menurut para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa etnosentrisme ialah sikap kertutupan kelompok dalam masyarakat yang cenderung memilih, menilai kelompoknya sebagai kelompok terbaik dan kelompok lain (kelompok yang berlawanan) sebagai kelompok yang tidak baik.

Faktor Penyebab Etnosentrisme

etnosentrisme
rdamayanti62.blogspot.com

Penyebab timbulnya etnosentrisme di Indonesia yaitu faktor budaya politik dan pluralisme.

1. Budaya Politik

Budaya politik ini merupakan faktor intenal dasar penyebab munculnya etnosentrisme. Budaya politik yang ada pada masyarakat cenderung tradisional dan tidak rasional. Budaya politk semacam ini sangat subjektif dan penuh ikatan emosional dan ikatan primordial yang cenderung menguasai masyarakat. Masyarakat yang terlibat dalam politik sering mementingkan kepentingan mereka sendiri mulai dari suku, etnis, agama dan lain sebagainya.

2. Pluralitas Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan beragam suku, agama, ras, golongan dengan adanya pluralitas tersebut banyak terjadi berbagai persoalan setiap suku, agama, ras dan golongan yang saling berusaha untuk mendapatkan kekuasaan dan menguasai yang lain.

Faktor yang Mempengaruhi Etnosentrisme

1. Prasangka Sosial: yaitu sikap negatif yang diarahkan kepada seseorang atas dasar perbandingan dengan kelompok sendiri

2. Stereotip:  yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap orang lain (karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman)

3. Jarak Sosial: yaitu aspek lain dari prasangka sosial yang menunjukkan tingkat penerimaan seseorang terhadap orang lain dalam hubungan yang terjadi diantara mereka

Dampak Etnosentrisme

Dilihat dari pengertiannya, etnosentrisme memiliki dua dampak, yakni dampak positif dan dampak negatif antara lain sebagai berikut:

1. Dampak Positif

  • Dapat mempertinggi semangat patriotisme
  • Dapat menjaga keutuhan dan stabilitas kebudayaan
  • Dapat mempertinggi rasa cinta terhadap bangsa sendiri

2. Dampak Negatif

  • Dapat menimbulkan konflik sosial antar suku
  • Terdapat aliran politik
  • Menghambat proses asimilasi dan integrasi
  • Mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuaan
  • Menghambat pertukaran budaya

Contoh Etnosentrisme

Adapun contoh etnosentrisme adalah antara lain sebagai berikut:

Etnosentrisme dalam Bidang Politik

Etnosentrisme dalam politik, sederhananya sering terwujud dalam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Indonesia. DPR yang merupakan kumpulan orang-orang yang seharusnya terpilih untuk mewakili suara rakyat, tetapi pada kenyataannya ada beberapa oknum yang lebih mengutamakan kepentingan partai politiknya dibanding kepentingan rakyat, yang dilakukan secara implisit atau eksplisit.

Etnosentrisme dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pergaulan, etnosentrisme masih sering terjadi, baik secara sadar ataupun tidak sadar. Misalnya seperti, melakukan bullying, mengejek atau menjauhi temannya yang berasal dari Indonesia bagian timur, semisal Papua, yang hanya karena kulit mereka yang hitam serta rambutnya yang ikal atau keriting.

Etnosentrisme Di Indonesia

1.  Perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk manusiawi.

Hal itu terjadi apabila konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dianggap tidak masuk akal dan tidak masuk logika, namun bagi masyarakat Madura konsep harga diri adalah konsep yang sakral dan harus dijinjing oleh masyarakat.

2. Suku Papua pedalaman yang mempunyai kebiasaan dalam menggunakan koteka, ketika dilihat dari sudut pandang masyarakat non Papua pedalaman, menggunakan koteka mungkin dianggap sebagai hal yang memalukan. Namun, bagi warga pedalaman Papua, menggunakan koteka dianggap sebagai sebuah kewajaran dan menjadi kebanggaan tersendiri.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.