Doa Masuk, Keluar Kamar Mandi Beserta Sunnah dan Adabnya

Islam adalah agama yang mulia dan sempurna, yang didalamnya mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari hal paling sederhana hingga sampai hal yang besar seperti mengurus sebuah pemerintahan atau negara. Jadi, bila kemudian ada orang yang berkata “jangan bawa-bawa Islam dalam hal ini!” maka itulah bibit sekularisme.  Oleh karena itu, jangan sampai sedikitpun bagian dari kehidupan diri kita terpisah dari Islam.

Termasuk ketika kita ke kamar mandi, ada hal-hal dan perangkat yang harus kita penuhi sebagai seorang mukmin, karena masih banyak muslim yang masih meremehkan hal-hal sepele yang sebenarnya memiliki faedah atau keutamaan luar biasa dalam kehidupan sehari hari. Seperti doa dan adab-adab masuk kamar mandi yang sangat sederhana selalu kita lakukan setiap hari.

Di dalam kamar mandi terkenal sekali banyak penunggunya, sehingga penting bagi kita agar terus meminta penjagaan dari Allah mulai  dari masuk sampai keluar dari kamar mandi untuk senantiasa melafadzkan doa yang dituntunkan oleh Nabi kita tercinta Muhammad shallahu ‘alaihi wassalam, bila kita ingin mendapatkan ridha Allah dalam setiap aktivitas kita. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

 

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

 

Artinya: “Tidak ada seorang pun yang berdoa dengan sebuah doa kecuali Allah akan mengabulkan apa yang dimintanya atau memalingkannya dari keburukan yang semisalnya, selama dia tidak berdoa yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.” (HR At Tirmidzi no. 3381. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Sunnah dan Adab Keluar Masuk Kamar Mandi

doa masuk kamar mandi
pinterest.com

1. Membaca Doa Masuk Kamar Mandi

Disunnahkan bagi orang yang hendak memasuki al-khalaa’ (kamar kecil/WC) agar membaca:

 

بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

 

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.

 

Do’a ini berdasarkan hadits ‘Ali radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

سِتْرٌ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ

 

Penghalang antara jin dan aurat anak Adam jika salah seorang dari kalian memasuki al khalaa’ adalah ia mengucapkan, “Bismillah”. Shahih: [Shahih Al Jaami’ush Shaghiir (no. 3611)], Sunan At Tirmidzi (II/59/ no. 603) ini adalah lafadznya. Sunan Ibnu Majah (I/109 no. 297), dengan lafazh: إِذَا دَخَلَ الْكَنِيْفَ. “Jika memasuki al kaniif
Sebagai ganti dari “jika memasuki al-khalaa’.”

2. Doa Keluar Kamar Mandi

Disunnahkan jika keluar darinya mengucapkan:

 

غُفْرَانَكَ

 

“(Ya Allah, aku mengharap) ampunan-Mu.”

 

Berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu anhuma, dia berkata:

 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلاَءِ قَالَ: غُفْرَانَكَ

 

“Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari kamar kecil, beliau mengucapkan, “(Ya Allah, aku mengharap) ampunan-Mu”. Shahih: [Shahih Al Jaami’ush Shaghiir (no. 4714)], Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/52 no. 30), Sunan At Tirmidzi (I/7 no. 7), Sunan Ibnu Majah (I/ 110 no. 300).

3. Mendahulukan Kaki Kiri Ketika Masuk dan Kaki Kanan Ketika Keluar

Karena adanya sunnah yang memerintah agar mendahulukan yang kanan untuk hal mulia dan mendahulukan yang kiri untuk hal yang tidak mulia. Banyak riwayat yang menunjukkan hal tersebut secara global. [As Sailul Jarraar (I/64)].

4. Jika di Tempat Terbuka, Disunnahkan Menjauh Hingga Tidak Terlihat

Dari Jabir radhiyallahu anhu, dia berkata:

 

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ، وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَأْتِي الْبَرَازَ حَتَّى يَتَغَيَّبَ فَلاَ يَرَى

 

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perjalanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak buang hajat di lapangan terbuka melainkan bersembunyi hingga tidak terlihat.” Shahih: [Shahih Sunan Ibnu Majah (no. 268)], Sunan Ibnu Majah (I/121 no. 335), dan Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/19 no. 2), dengan lafadz yang semisalnya.

5. Tidak Mengangkat Pakaian Kecuali Setelah Dekat dengan Tanah

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma:

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ لاَ يَرْفَعُ ثَوْبَهُ حَتَّى يَدْنُوَ مِنَ اْلأَرْضِ

 

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya kecuali setelah dekat dengan tanah.” Shahih: [Shahih Al Jaami’ush Shaghiir (no. 4652)], Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/31 no. 14) dan Sunan At Tirmidzi (I/11 no. 14), dari hadits Anas radhiyallahu anhu.

 

Tidak boleh menghadap dan membelakangi kiblat, baik di lapangan terbuka maupun dalam bangunan.

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

 

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوْا

 

“Jika kalian hendak buang hajat, janganlah menghadap dan membelakangi kiblat. Tapi, menghadaplah ke timur atau ke barat.” Shahih: [Mukhtashar Shahih Muslim (no. 109)], dan Shahih Sunan Abu Dawud (no. 7).

6. Dilarang Buang Hajat Di Jalan yang Dilalui Manusia dan Tempat Berteduh Mereka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

اِتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ. قَالُوْا: وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ

 

“Jauhilah dua perkara yang mengundang laknat. Mereka bertanya, ‘Apakah dua perkara yang mengundang laknat itu, ya Rasulullah?.’” Beliau berkata, “Orang yang buang hajat di jalan orang-orang atau di tempat berteduh mereka.” Shahih: [Shahih Al Jaami’ush Shaghiir (no. 110)], Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/47 no. 25) dan Shahih Muslim (I/226 no. 269), dengan lafadz darinya: اَللَّعَّانَيْنِ، قَالُوْا: وَمَا اللَّعَّانَانِ؟

7. Dimakruhkan Jika Seseorang Kencing Di Tempat Mandinya.

Dari Humaid Al Himyari, dia berkata, “Aku menjumpai seorang yang telah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Abu Hurairah menyertai beliau. Dia berkata:

 

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَمْتَشِطَ أَحَدُنَا كُلَّ يَوْمٍ أَوْ يَبُوْلَ فِيْ مُغْتَسَلِهِ

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang salah seorang dari kami bersisir setiap hari dan kencing di tempat mandinya.” Shahih: [Shahih Sunan An Nasa’i (no. 232)], Sunan An Nasa’i (I/130)  dan Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/50 no. 28).

8. Dilarang Kencing Di Air yang Tidak Mengalir

Dari Jabir radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ

 

“Beliau melarang kencing di air yang menggenang.” Shahih: [Shahih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6814)], Shahih Muslim (I/235 no. 281) dan Sunan An Nasa’i (I/34).

9. Diperbolehkan Kencing Sambil Berdiri, tapi Duduk (Jongkok) Lebih Utama

Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ: ادْنُهُ، فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di tempat pembuangan sampah sebuah kaum lalu kencing sambil berdiri dan aku pun menjauh. Beliau lantas berkata, ‘Mendekatlah.’ Lalu aku mendekat hingga aku berdiri dekat kaki beliau. Beliau kemudian berwudhu dan membasuh bagian atas kedua khuf (sepatu panjang) beliau.” Muttafaq ‘alaih: [Shahih Muslim (I/228 no. 273)], Sunan At Tirmidzi (I/11 no. 13), Shahih Al Bukhari (Fathul Baari) (I/329 no. 225), Sunan An Nasa’i (I/19), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/44 no. 23) dan Sunan Ibnu Majah (I/ 111 no. 305).

 

Kita katakan bahwa duduk lebih utama karena begitulah kebanyakan perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai ‘Aisyah radhiyallahu anhuma berkata:

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوْهُ، مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلاَّ جَالِسًا

 

“Barangsiapa mengatakan kepada kalian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian mempercayainya. Beliau tidak pernah kencing melainkan dengan duduk.” Shahih: [Shahih Sunan An Nasa’i (no. 29)], Sunan An Nasa’i (I/26) dan Sunan At Tirmidzi (I/10 no. 12) dengan lafadz darinya: “قَاعِدًا”.

Perkataan ‘Aisyah tidak menafikan apa yang dibawakan oleh Hudzaifah. Karena ‘Aisyah hanya mengabarkan apa yang dia lihat,  dan Hudzaifah juga mengabarkan apa yang dia lihat. Sebagaimana diketahui (dalam kaidah) bahwa yang menetapkan lebih diutamakan daripada yang menafikan. Karena pada yang menetapkan itu terdapat ilmu yang lebih.

10. Diwajibkan Bersuci dari Kencing

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melalui dua kubur, lalu bersabda:

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِيْ كَبِيْرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بَيْنَ النَّاسِ بِالنَّمِيْمَةِ

 

“Sesungguhnya mereka berdua diadzab. Mereka tidak diadzab karena dosa besar. Salah seorang di antara mereka diadzab karena tidak bersuci dari kencingnya. Sedang yang lain karena suka menggunjing di antara manusia.” Muttafaq ‘alaih: [Shahih Al Bukhari (Fathul Baari) (I/317 no. 216), Shahih Muslim (I/240 no. 292), Sunan At Tirmidzi (I/47 no. 70), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/40 no. 20) dan Sunan An Nasa’i (I/28).

11. Tidak Boleh Menyentuh Kemaluan dengan Tangan Kanan Ketika Kencing dan Tidak Menggunakannya Saat Bercebok dengan Air

Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمُسُّ ذَكَرَهُ بِيَمِيْنِهِ وَلاَ يَسْتَنْجِ بِيَمِيْنِهِ

 

“Jika salah seorang di antara kalian kencing, janganlah ia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya dan jangan pula ia cebok dengan tangan kanannya.” Shahih: [Shahih Sunan Ibnu Majah (no. 250)], Sunan Ibnu Majah (I/113 no. 310), ini adalah lafadz darinya. Diriwayatkan pula dalam Shahih Al Bukhari (Fathul Baari) (I/254 no. 154), Shahih Muslim (I/225 no. 267), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/53 no. 31), Sunan At Tirmidzi (I/12 no. 15), Sunan An Nasa’i (I/25) secara ringkas maupun panjang.

12. Diperbolehkan Bersuci dengan Air dan Batu, atau yang Serupa dengan Batu, namun Air Lebih Utama

Dari Anas radhiyallahu anhu, dia berkata:

 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ

 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki WC, lalu aku dan anak lain yang seusia denganku membawakan beliau setimba air dan sebuah tombak kecil. Beliau lantas bersuci dengan air.” Muttafaq ‘alaih: [Shahih Al Bukhari (Fathul Baari) (I/252 no. 152)], Shahih Muslim (I/227 no. 271), Sunan An Nasa’i (I/42), di dalam riwayatnya tidak disebutkan kata “’anazah”.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ فَلْيَسْتَطِبْ بِهَا فَإِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ

 

“Jika salah seorang di antara kalian hendak buang hajat, maka hendaklah membawa tiga buah batu. Dan hendaklah ia bersuci dengannya, karena itu mencukupinya.” Shahih: [Shahih Sunan An Nasa’i (no. 43)], Sunan An Nasa’i (I/42), dan Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/61 no. 40).

13. Tidak Boleh Menggunakan Kurang dari Tiga Batu

Dari Salman Al Farisi radhiyallahu anhu, dikatakan kepadanya, “Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal hingga masalah buang air besar?” Dia menjawab:

 

أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِالْيَمِيْنِ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ نَسْتَنْجِيْ بِرَجِيْعٍ، أَوْ بِعِظَمٍ

 

“Benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu dan bersuci dengan kotoran atau tulang.” Shahih: [Shahih Sunan Ibnu Majah (no. 255)], Shahih Muslim (I/223 no. 262), Sunan At Tirmidzi (I/13 no. 16), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/24/7), Sunan Ibnu Majah (I/115/316) dan Sunan An Nasa’i (I/38).

14. Tidak Boleh Bersuci dengan Tulang atau Kotoran

Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata:

 

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَمَسَّحَ بِعِظَمٍ أَوْ بِبَعْرٍ

 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bersuci dengan tulang atau kotoran.” Shahih: [Shahih Al Jaami’ush Shaghiir (no. 6827)], Shahih Muslim (I/224 no. 263), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (I/60 no. 38).

 

 

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.